Keluarga Ibrahim Dalam Kenangan

Peristiwa itu terjadi ribuan tahun silam. Tepatnya di sebuah lembah tandus tak berpenghuni. Saat itu, matahari begitu angkuh seakan ingin membakar seluruh isi mayapada. Angin gurun berlomba menghempaskan kerikil-kerikil padang pasir. Nun jauh di sana, nampak tiga sosok manusia berhenti. Suasana begitu senyap. Tak ada kata yang terucap. Seakan masing-masing sibuk dengan pikirannya.

Ketiga sosok itu bukan lain adalah Nabiullah Ibrahim as, istrinya tercinta Hajar serta bayi mereka, Ismail as. Di lembah yang sunyi itu mereka singgah. Ada sebuah perintah yang dititahkan Sang Khalik atas diri Ibrahim. Sungguh merupakan ujian yang maha berat. Setelah berdiam sejenak, Ibrahim as bangkit dan berbalik hendak pergi. Merasa heran, sang istri menyusul di belakang. Serak ia berseru, “Hendak kemana engkau wahai suamiku?” Tanpa menoleh Ibrahim terus berjalan. Bahkan jalannya semakin cepat. Sang istri tak mau ketinggalan. Ia terus mengikuti dan berseru memanggil suaminya. Hingga akhirnya, lantaran tidak ada jawaban pasti, ia pun bertanya: “Apakah ini perintah Allah?”  “Ya”, jawab Ibrahim singkat. Hajar pun diam dan tak bertanya lagi. Mantap ia berkata: Kalau demikian, sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan kami…”, (HR. al-Bukhari, no. 3364). Sebuah bentuk ketegaran iman dan keteguhan hati…

Padahal, jauh di dasar jiwanya, Ibrahim tidak tega meninggalkan keluarganya di padang gersang itu. Hatinya tak kuasa membayangkan apa yang bakal terjadi kemudian. Namun karena hal itu adalah perintah Allah, Ibrahim pun pasrah. Menyerahkan sepenuhnya pada ketentuan dan kasih sayang-Nya. Cintanya pada Allah jauh melampaui cintanya pada makhluk manapun. Olehnya, kendati Hajar memanggil dan memohon, Ibrahim tetap tegar melangkah. Walau dalam hatinya, beliau menangis.

Tinggallah Hajar seorang diri bersama anaknya. Tak ada bekal sedikit pun yang ditinggalkan Ibrahim. Maka ia berlari dan terus berlari melewati bukit-bukit tuk mencari. Mungkin saja ada mata air atau kafilah dagang yang kebetulan lewat. Hingga tatkala upaya dan tawakkal beliau mencapai puncak, Allah Ta’ala memancarkan air dari bawah kaki sang bayi, Ismail. Disamping itu, usaha Hajar ini pun diabadikan dalam salah satu ritual ibadah haji, yakni berlari-lari kecil antara Shafa’ dan Marwah.

Belum cukup sampai di situ ujian bagi Nabi Ibrahim. Saat mengunjungi gurun tandus tempat ia meninggalkan keluarganya di sana, ia menyaksikan bukti kebesaran Allah. Ternyata anak dan istrinya dalam keadaan sehat dan bahagia. Negeri yang sebelumnya tandus, menjelma menjadi sebuah perkampungan. Penduduknya sangat bergantung pada sumur berkah yang tak pernah kering, Zamzam. Kehidupan keduanya pun jauh berubah. Mereka bahkan ditahbis sebagai pemuka bagi kaum yang tinggal di sekitar sumur Zamzam itu. Sungguh kenyataan yang mengharukan. Terutama kala menyaksikan bayi mungil yang dulu ditinggalkannya, kini tumbuh menjadi seorang anak yang sholeh dan cerdas.

Kesholehan dan kecerdasan Ismail sanggup merebut segenap cinta dalam hati Ibrahim. Seakan kasih sayang beliau tumpah untuk anak semata wayangnya itu. Hari-harinya diisi oleh kebahagiaan dan kebanggaan menyaksikan sang anak tumbuh… Hingga tibalah ujian Allah yang kedua atas dirinya. Allah Ta’ala memerintahkan untuk menyembelih sang permata hati itu. Sebagai manusia, tentu saja beliau terhimpit perasaan gundah, sedih, dan ketakutan mendalam. Mulanya Ibrahim menyangka perintah itu sebagai bunga tidur saja. Namun tatkala perintah itu datang berulang kali, maka ia pun meyakinkan dirinya bahwa itu adalah perintah Allah Ta’ala padanya.

Esoknya, lembut ia utarakan perintah penyembelihan itu pada anak semata wayangnya. Di luar dugaan, sang anak memberikan jawaban jauh dari nalar biasa. Sebuah jawaban yang sanggup mendobrak dinding karang keraguan. Padahal, usianya saat itu belum lebih sepuluh tahun. Namun karena Tarbiyah Nubuwah yang dikecap langsung dari sang ibu, jawaban sang anak pun diabadikan oleh Allah: “Lakukanlah wahai ayahanda, insya Allah engkau akan mendapatkan aku dari golongan orang yang bersabar”.Tangis Ibrahim pecah. Dipeluknya tubuh sang anak erat-erat. Tak mampu ia berucap. Bahkan memandang wajahnya pun ia tak kuasa.

Sebelum segala sesuatunya terjadi, sang anak berpesan: “Wahai Ayahanda, lepaslah pakaian ayah, agar darahku tidak memercik mengenai pakaian ayah. Aku tidak ingin ibu bertanya darah siapa yang ada di pakaian itu. Lalu ia dirundung sedih dan terus mengenangku. Wahai ayah, jangan pandangi wajahku saat mengayunkan pedang itu. Aku khawatir ayah tidak tega, lalu muncul keraguan dalam diri ayah!”. Nabi Ibrahim diam. Ia tak sanggup mengeja sepenggal kata pun. Dan saat keduanya telah menggapai puncak kepasrahan tertinggi, Allah Ta’ala menggantikan Ismail dengan seekor domba yang gemuk.

Duhai, mengenang kisah keluarga Ibrahim ini, sebenarnya kita diingatkan akan hakikat kepasrahan dan ketundukan pada Sang Khalik. Demikian pula cinta kepadaNya di atas segalanya. Dan rasanya kita begitu kecil ketimbang mereka. Cinta kita pada Sang Khalik masih berkisar sebatas kalkulasi untung rugi secara matematika. Kita tidak tahu, bagaimana keadaan diri kita jika ditakdirkan mendapat perintah seperti itu. Bahkan yang jauh lebih rendah dari ujian Nabi Ibrahim tersebut pun kita masih ragu terhadap keyakinan dan kepasrahan kita.

Untuk mengenang itu semua, Allah Ta’ala abadikan dalam syari’at kurban di hari Idul Adha. Alhamdulillah, Allah Ta’ala tidak menyuruh menyembelih anak kita. Namun Dia hanya memerintahkan menyembelih seekor kambing, sapi atau unta, sebagai simbol keikhlasan dan ketundukan kita. Sebab daging dan darah itu tidak sampai pada-Nya. Yang sampai adalah keikhlasan yang bersemayam dalam dada. Dan ini, pada hakikatnya masih belum ada apa-apanya dibanding perintah Allah kepada Nabiullah Ibrahim alaihis salam.

Sumber: belajarislam.com

Iklan

Tersenyum dan Bersabarlah Diatas Ujian

Bersabar Mengantar Kepada Kedudukan Yang Tinggi

Musibah dan ujian seringkali pahit dirasakan dan meresahkan pikiran. Namun sungguh luar biasa keberuntungan yang diperoleh orang-orang yang sabar menerima ketentuan-Nya ketika ditimpa musibah dan ujian. Boleh jadi seseorang dalam catatan taqdir termasuk seseorang yang mempunyai kedudukkan yang tinggi dan mulia di sisi Allah subhanahu wata’ala, tetapi ia tidak mungkin bisa mencapai derajat yang mulia dan tinggi tersebut dengan hanya mengandalkan amal ibadah yang ia lakukan, atau ia tidak memiliki amal ibadah khusus yang bisa mengantarkan kepada kedudukan tersebut. Maka Allah subhanahu wata’ala mendatangkan kepada orang tersebut ujian dan cobaan secara terus menerus, sehingga orang tersebut bersabar dan berbaik sangka terhadap-Nya, sampai Allah subhanahu wata’ala memberi balasan kesabaran tersebut dengan memberi kedudukan yang tinggi dan mulia, yang belum tentu bisa diraih dengan amal ibadah.

Tentang hal ini Abu Hurairah radiallahu’anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seseorang benar-benar memiliki kedudukan di sisi Allah, namun tiada suatu amal apapun yang bisa menghantarkannya ke kedudukan tersebut, maka Allah memberikan cobaan kepadanya secara silih berganti dengan sesuatu yang tidak dia sukai, sehingga Allah mengantarkannya untuk sampai kepada kedudukan tersebut.” (HR. Abu Ya’la, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan dia berkata: shahih sanadnya)

Jalan Menuju Surga Terbentang Luas

Surga Allah subhanahu wata’ala hanya bisa diraih dengan sesuatu yang tidak disukai oleh hawa nafsu manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai (oleh hawa nafsu) dan sedangkan neraka itu dikelilingi dengan hal-hal yang disukai hawa nafsu.” (HR. Al-Bukhari & Muslim)

Kesabaran dan keridhaan seseorang dalam menerima musibah adalah kunci untuk membuka pintu surga, tiada balasan bagi mereka yang bersabar dan ridha menerima taqdir Allah melainkan surga. Berdasarkan penjelasan tersebut, hendaklah seseorang yang sedang diberi ujian senantiasa berada diatas kesabaran, berusaha untuk terus ikhtiar, selalu berprasangka baik, dan tersenyum bahagia karena yakin dengan janji Allah subhanahu wata’ala atas orang-orang yang bersabar.

“Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertaqwalah kepada Rabbmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Terinspirasi dari tulisan: http://alsofwah.or.id/cetakannur.php?id=398

Apakah Allah Mencintaiku?

Syeikh Ali Musthafa Thanthawi rahimahullah pernah berkata,

“Apakah Allah mencintaiku?”

Pertanyaan ini terus mengusikku
Aku teringat bahwa kecintaan Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya hadir karena beberapa sebab dan sifat yang disebutkan didalam al Quran al Karim

Aku membalikkannya kedalam memoriku, untuk membandingkan apakah diriku sudah seperti yang disebutkan di dalam Al-Qur’an itu, agar aku dapat menemukan jawaban atas pertanyaanku

Aku menemukan bahwa Allah mencintai “orang-orang yang bertakwa” dan aku tidak berani menganggap diriku bagian dari mereka (yang bertakwa)

Aku menemukan bahwa Allah mencintai “orang-orang yang sabar” maka aku teringat betapa tipisnya kesabaranku

Aku menemukan bahwa Allah mencintai “orang-orang yang berjihad” maka aku pun tersadar akan kemalasanku dan rendahnya perjuanganku

Aku menemukan bahwa Allah mencintai “orang-orang yang berbuat baik” Betapa jauhnya diriku dari sifat ini

Saat itulah aku berhenti meneruskan pencaharian dan pengamatanku. Aku takut bila nanti aku tidak menemukan sesuatu pun didalam diriku yang dapat menyebabkan Allah mencintaiku

Aku periksa semua amal-amalku..
Ternyata di dalamnya banyak yang bercampur dengan kemalasan, kelemahan, kotoran-kotoran dan dosa-dosa. Seketika itu terbersitlah dalam ingatanku firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat”

Seakan-akan aku menjadi faham bahwa ayat itu adalah untuk diriku dan orang-orang yang sepertiku, seketika mulutkupun membaca, “Astaghfirullah wa Atuubu ilaihi“ Aku memohon ampunan Allah dan aku bertaubat kepada Nya”

Diterjemahkan dari: www.mktaba.org
Oleh: Ustadz ACT El-Gharantaly

Mumpung Engkau Masih Bisa Membahagiakannya

Ust. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Muhammad bin Sirin bertutur :
Harga kurma di zaman pemerintahan Utsman mencapai 1000 dirham. Maka Usamahpun menuju ke pohon kurna miliknya lalu iapun melobanginya lalu ia keluarkan jantung kurmanya lalu ia memberikannya kepada ibunya untuk di makan.

Orang-orang pun bertanya : “Apakah yang mendorongmu melakukan hal ini ? padahal engkau tahu bahwa pohon kurma harganya mencapi 1000 dirham?”

Maka Usamah menjawab :

إِنَّ أُمِّي سَأَلَتْنِي وَلا تَسْأَلُنِي شَيْئًا أَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلا أَعْطَيْتُهَا

“Sesungguhnya ibuku meminta jantung kurma kepadaku, dan tidaklah ibuku meminta sesuatupun yang aku mampui kecuali akan aku berikan kepadanya” (Taariikh Dimasq karya Ibnu ‘Asaakir).

Jika engkau masih mampu untuk memenuhi permintaan dan harapan ayah dan ibumu maka lakukanlah sebelum datang masa dimana :

– mereka meminta sesuatu yang tidak bisa engkau penuhi..

– mereka telah enggan untuk meminta lagi kepadamu karena jengkel kepadamu yang hanya bisa berjanji memberikan akan tetapi tidak memenuhi janjimu

– mereka sudah tidak bisa lagi meminta kepadamu karena mereka berdua telah meninggal dunia

– mereka jengkel dengan dirimu yang selalu semaksimal mungkin memenuhi permintaan istrimu, sementara untuk memenuhi permintaan orang tuamu maka sloganmu “Kalau sempat…” atau “Kalau masih ada sisa harta…”

Permata Hati Yang Terlupa

Abu Bakr bukanlah orang faqir seperti Abu Dzar, Abu Hurairah, dan sahabat lainnya. Tetapi Abu Bakr tetaplah menjadi yang terbaik dan termulia di antara mereka itu.

Abu Bakr tak pernah disiksa seperti Khubab, Bilal, Sumayyah, Yasir, dan lainnya. Tetapi Abu Bakr tetaplah menjadi yang terbaik dan termulia dibanding mereka yang disiksa itu.

Abu Bakr tak terbunuh sebagai syahid seperti Umar, Utsman, Ali, Hamzah, dan lainnya. Tetapi Abu Bakr tetaplah menjadi sosok terbaik dan termulia dibanding mereka para syuhada itu.

Rahasia apakah yang dimiliki Abu Bakr hingga sosoknya mampu mengalahkan mereka yang gemilang dalam prestasi ukhrawi masing-masing?

Kita biarkan seorang tabi’in menyingkap tabir kemuliaan Abu Bakr.

Bakr bin Abdillah al-Muzaniy berkata:

“Abu Bakr menggapai itu semua dan melebihi mereka bukan karena tingginya kuantitas shalat, puasa dan lainnya namun karena sesuatu yang menetap di hatinya yaitu amalan-amalan hati.”

Itulah yang dicapai Abu Bakr yang tak bisa digapai oleh amal-amal lain. Itulah yang menjadikan imannya lebih tinggi dibanding iman penduduk bumi jika memang mesti ditimbang.

Umar berkata:

“Kita telah memahami bahwa iman adalah amalan hati, ungkapan lisan dan peragaan anggota badan. Namun kita begitu mengusahakan rupa dan penampilan amal dan kuantitasnya. Begitu pula dgn ungkapan lisan. Namun sengaja melupakan mutiaranya yaitu ‘amal alqalb (amalan hati).

Setiap ibadah ada tampilan dan permata.

Ruku, sujud dan rukun lainnya dalam shalat ada tampilan namun khusyu adalah permatanya.

Menahan diri dari hal yang membatalkan dari terbit fajar hingga maghrib adalah tampilan puasa namun takwa adalah permatanya.

Sa’i, thawaf, wukuf, dan melempar jumrah adalah tampilan haji namun pengagungan terhadap syiar Allah adalah permatanya.

Mengangkat tangan, menghadap kiblat, lafadz munajat dan pinta adalah tampilan doa namun ketundukan dan kepasrahan adalah mutiaranya.

Bertasbih, tahlil, takbir dan lainnya adalah tampilan dzikir namun pemuliaan, kecintaan, khauf dan raja’ adalah permatanya.

Permata di balik permata adalah penekanan amalan hati lebih diutamakan dibanding amalan anggota badan.

Esok akan datang: “..Pada hari dinampakkan segala rahasia..” (QS. At-Thariq:9)

Esok pula: “..Dan dinampakkan apa yang ada di dalam dada..” (QS. Al-Aadiyaat:10)

Esok tak akan melesat ke Surga: “.. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (QS. As-Syuaro:89)

Esok tak melesat pula ke Surga kecuali: “..Orang yang takut kepada Rabb yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan” (QS. Qaaf:33-34)

(Sumber : Akun Al-Mukhtalifah)

Sekali Lagi, Ulang Tahun. Tahukah Kita?

Tahukah kita, pada saat kita tepat berada di hari kelahiran kita banyak roh-roh jahat yang akan mengunjungi kita. Oleh sebab itu agar kita yang memiliki hari ulang tahun terlindungi dari pengaruh jahat tersebut, maka kita perlu mengundang orang-orang untuk mengelilingi kita dan berpesta. Dengan adanya banyak suara dan keramaian maka roh-roh jahat tersebut akan takut dan tidak akan mengganggu kita. Dan tahukan kita bahwa kepercayaan tersebut adalah keyakinan budaya pagan di masa kuno.

Atau barangkali kita belum mengetahui bahwa setiap orang mempunyai roh pelindung atau daemon yang hadir pada setiap kelahirannya dan menjaga dia selama hidupnya. Roh ini mempunyai hubungan mistik dengan tuhan (dewa) yang hari kelahirannya sama dengan orang yang merayakan hari ulang tahun itu. Pada setiap hari ulang tahun seseorang, menyalakan lilin ulang tahun adalah hal yang sangat penting karena merupakan suatu penghormatan kepada orang yang berulang tahun dan dapat mendatangkan keberuntungan baginya. Beberapa orang mengatakan bahwa lilin ditempatkan pada kue karena kepercayaan bahwa asap dari lilin akan membawa keinginan serta doa mereka kepada dewa-dewa yang tinggal di langit. Kue-kue yang bulat seperti bulan dan diterangi dengan lilin-lilin kecil harus diletakkan di kuil ARTEMIS. ARTEMIS adalah Dewi Bulan putri dari ZEUS. Ucapan selamat ulang tahun dan harapan semoga bahagia merupakan bagian penting dari perayaan ini. Ucapan ini mempunyai kuasa untuk kebaikan atau keburukan karena seseorang lebih dekat kepada dunia roh pada hari itu. Dan tahukan kita siapa yang memiliki kepercayaan tersebut? Siapa yang melakukan ritual yang dipersembahkan untuk Dewa dan Dewi mereka? Ternyata kepercayaan tersebut adalah keyakinan yang dianut oleh orang-orang Romawi. Sedangkan kebiasaan menyalakan lilin pada kue dimulai oleh orang-orang Yunani.

Islam datang sebagai agama yang sempurna. Kita meyakini bahwa tidak ada Tuhan yang berhak untuk menerima pengabdian kita kecuali hanya Allah Ta’ala. Seorang muslim sejati adalah mereka yang selalu berfikir ilmiah dengan selalu menimbang apapun berdasarkan sumber dalil-dalil yang shahih. Ia tidak akan bermudah-mudahan meniru suatu amalan atau kebiasaan yang dilakukan oleh siapapun sebelum ia temukan dasar yang jelas. Ia bukanlah seperti yang disifati oleh Allah ta’ala dalam Al-Qur’an sebagai berikut,

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, ”mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah:170)

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang diturunkan Allah,” mereka menjawab, “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?” (QS. Luqman:21)

Berkaitan dengan kebiasaan sebagian orang dengan perayaan ulang tahun, seorang muslim hendaknya takut terhadap hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang pernah mengatakan, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud, Al-Albani berkata dalam Shahih Abu Dawud, Hasan Shahih no. 3401) Terlebih lagi apabila kita telah mengetahui kebiasaan perayaan ulang tahun bukanlah berasal dari kebiasaan biasa kaum kafir. Tapi merupakan kebiasaan yang dibangun atas dasar sebuah pengabdian kaum kafir kepada Dewa Dewi mereka. Wallahu a’lam.

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang muslim (berserah diri kepada Allah).” (QS. Ali Imran: 64)

@Kota Mangga

Referensi Tambahan:
https://alkaoetsar.wordpress.com/2013/12/09/sikap-yang-islami-menghadapi-hari-ulang-tahun/
http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2011/07/ulang-tahun-adalah.html
http://tututelme.blogdetik.com/index.php/2011/10/asal-usul-kebiasaan-perayaan-hari-ulang-tahun/

Mengapa Menitipkan Sisa Uang di Bank Syariah?

Jika kita mempelajari lebih dalam tentang bank syariah di Indonesia serta praktek bisnis yang dijalankannya dibandingkan dengan fatwa-fatwa yang ada, kita akan temukan bahwa saat ini bank syariah belum sepenuhnya berjalan secara murni syariah. Memang ada beberapa sebab dan alasan yang mendasari praktek tersebut. Namun lepas dari berbagai alasan yang ada, seorang muslim yang mendambakan tegaknya syariah dalam berbagai sektor kehidupan, alangkah baiknya jika kita tidak hanya melihat keburukan yang ada dan menutup mata dari kebaikan yang ada walaupun mungkin itu kecil.

Bank syariah dengan segala kelebihan dan kekurangannya, harus kita akui ia memiliki beberapa perbedaan dengan bank konvensional. Setidaknya bagi saya, ada tiga alasan mengapa memilih menitipkan (sisa) uang kita di bank syariah, diantaranya:

Pertama, bank syariah berada di bawah pengawasan MUI melalui Dewan Syariah Nasional (DSN). Tugas dari DSN ini adalah menumbuhkembangkan penerapan nilai-nilai syariah dalam kegiatan perekonomian pada umumnya dan sektor keuangan pada khususnya, termasuk usaha bank, asuransi, dan reksa dana. Selain itu, DSN juga mengeluarkan fatwa atas produk dan jasa keuangan syariah. Memang benar pada kenyataannya fatwa yang telah dikeluarkan MUI melalui DSN belum sepenuhnya diterapkan oleh perbankan syariah. Namun pengertian belum sepenuhnya bukan berarti tidak sama sekali. Hal ini yang hendaknya menjadi catatan. Apabila bank syariah yang telah memiliki badan pengawas syariah saja tidak atau belum bisa menerapkan sepenuhnya aturan-aturan syariah, maka bagaimana halnya dengan bank yang memang tidak ada kontrol prinsip-prinsip syariah sama sekali?

Alasan kedua, dana dari pihak ketiga di bank syariah disalurkan ke sektor usaha yang syar’i. Muhammad Syafi’i Antonio dalam bukunya Bank Syariah dari Teori ke Praktek menyebutkan beberapa hal pokok yang diperhatikan oleh Bank Syariah sebelum menyetujui pembiayaan adalah:
1. Apakah objek pembiayaan halal atau haram?
2. Apakah proyek tersebut menimbulkan kemudharatan untuk masyarakat?
3. Apakah proyek berkaitan dengan perbuatan asusila
4. Apakah proyek berkaitan dengan perjudian
5. Serta hal-hal lain yang berkaitan dengan kegiatan ilegal serta dapat merugikan syiar Islam secara langsung ataupun tidak langsung

Bandingkan dengan pembiayaan yang ada di bank konvensional. Apabila kita menyimpang uang di bank konvensional, maka tanpa sepengetahuan kita uang tersebut dapat disalurkan ke bisnis diskotik, perdagangan minuman keras, peternakan babi, atau usaha lain yang merugikan syiar Islam. Karena memang pada kenyataannya tidak ada filter syar’i di bank konvensional dalam menyalurkan dana pihak ketiga. Asal prospek bisnisnya menguntungkan, bank konvensional siap mendanai. Maka renungkanlah kemana saja uang kita telah diputar oleh bank konvensional? Boleh jadi tanpa kita sadari kita telah tolong menolong dalam usaha yang diharamkan.

Namun demikian hal yang menjadi catatan dalam hal ini, meskipun bank syariah hanya menyalurkan dana nasabah ke sektor-sektor usaha yang syar’i, cara dalam penerapan akad terkait peyaluran dana ini masih perlu banyak perbaikan dalam sisi kesyariahannya. Masalah ini telah banyak dibahas oleh para ahli ilmu dan pakar dalam ekonomi dan perbankan syariah.

Alasan ketiga, mengambil sisi positif dari pernyataan praktisi perbankan syariah bahwa perbankan syariah saat ini dalam proses belajar dan bertahap menuju perbaikan ke arah murni syariah. Besar harapan kita semua, semoga suatu saat bank syariah benar-benar berjalan sesuai syariah secara kaffah. Ada hal yang menarik ketika saya pernah mengikuti seminar perbankan syariah. Ketika sesi tanya jawab, salah seorang dari peserta mencoba menyampaikan kritik kepada bank syariah yang menurutnya belum sepenuhnya berjalan sesuai syariah. Hal yang menarik adalah saat pemateri menjawab pertanyaan tersebut dengan kembali bertanya kepada peserta terlebih dahulu. Pertanyaan yang diajukan kepada peserta tersebut kurang lebih demikian, “Usia Bapak saat ini berapa?” Peserta yang bertanya tersebut menjawab yang menunjukkan bahwa beliau tidak lagi muda, bahkan menurut saya beliau sudah sangat dewasa. Kemudian pemateri pun kembali bertanya, “Dengan usia Bapak sekarang, apa Bapak sudah merasa dapat menjalankan prinsip-prinsip syariah dalam kehidupan Bapak?” Spontan saya pun tertegun dengan pertanyaan kedua dari pemateri tersebut. Saya dan mungkin semua peserta seminar saat itu apabila ditanya dengan pertanyaan yang sama pasti akan menjawab belum. Kita dengan usia kita masing-masing saat ini harus jujur mengakui belum bisa menjalankan prinsip-prinsip syariah secara kaffah atau menyeluruh. Sedangkan bank syariah yang baru berdiri di Indonesia dengan usia mudanya sekarang sudah kita paksakan untuk langsung murni syariah. Kira-kira demikian jawaban pemateri tersebut sebelum menjelaskan alasan-alasan yang ada. Kita akan sangat sulit meminta dan mengharapkan orang-orang kafir untuk melaksanakan syariat Islam secara kaffah, namun kita bs meminta dan mengharapkan orang muslim meski masih banyak kekurangannya untuk di suatu saat dapat menerapkan syariat Islam secara kaffah.

Memang impian bank syariah berjalan secara murni syariah adalah impian kita bersama. Semua kita pasti mendambakan hal tersebut. Namun kita semestinya juga tidak menutup mata tentang kondisi perbankan yang masih muda ini ditengah sistem konvensional yang telah sekian ratus tahun mengakar di dunia. Tidakkah kita ingin menghargai dan mendukung kebaikan yang ada di bank syariah disamping kita juga ikut memperbaiki kekurangannya.

Kontrol dan kritik terhadap perbankan syariah sangatlah perlu dan berguna. Adanya kontrol dan kritik tersebut diharapkan membantu laju perjuangan umat muslim terutama dalam hal perbaikan perbankan syariah agar tidak kandas di tengah jalan dan tidak menyeleweng dari jalur yang benar. Namun apakah kita hanya bisa berkontribusi di dalam kritik (yang membangun) tersebut sementara dana kita sendiri kita percayakan kepada lembaga keuangan konvensional dan secara aktif membantu pertumbuhan laju ekonomi berbasis konvensional?

Kesimpulannya, bank syariah saat ini masih memiliki banyak kekurangan bahkan dari sisi sistem syariahnya sendiri. Namun dengan kekurangan yang ada, masuk akal kalau ada sebagian kalangan yang berpendapat bahwa dengan menabung di bank syariah berarti kita mengambil keburukan atau madharat yang lebih ringan dibanding menabung di bank konvensional. Sebuah kaidah yang indah mengatakan, “Jika kita tidak bisa mengerjakan semua kebaikan, maka jangan kita tinggalkan semuanya” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga pernah berkata, Orang yang cerdas bukanlah orang yang tahu mana yang baik dari yang buruk. Akan tetapi, orang yg cerdas adalah orang yang tahu mana yang terbaik dari dua kebaikan dan mana yang lebih buruk dari dua keburukan

Note: Sampai dengan saat ini, apabila kita ingin menitipkan sisa dana di bank, lebih aman pilihlah tabungan bank syariah dengan akad wadiah (titipan) yang tidak ada sama sekali imbal balik ke kita baik berupa bagi hasil, bonus, atau apapun yang sejatinya semua itu termasuk riba. Dan usahakan sejauh mungkin agar kita tidak meminjam dana di bank. Dan mengapa kita katakan “menitipkan sisa uang” di bank? Karena kita hanya bermuamalah dengan bank sesuai kebutuhan. Dan sebaik-baik pembelanjaan uang kita adalah untuk urusan akhirat kemudian untuk dikembangkan produktifitasnya dengan berwirausaha.

Wallahu ta’ala a’lam.

Rujukan:

http://www.bnisyariah.tripod.com/faq.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Bank_Muamalat_Indonesia

http://maxzhum.wordpress.com/2009/04/22/fungsi-dewan-syariah-nasional-dan-dewan-pengawas-syariah/

@Jakarta, Juni 2014

Tinggalkan Perjudian Agar Kamu Beruntung

Pengertian Judi

Dalam bahasa Arab, judi sering disebut dengan istilah maysir (المَيْسِر). Al-Quran tiga kali menyebutkan kata maysir dengan makna judi. Namun di dalam hadits nabawi, istilah judi lebih sering disebut dengan nama permainannya seperti nard (النَّرْد) dan syathranj (الشَّطْرَنج). Keduanya adalah permainan yang populer di Persia, sehingga namanya pun menggunakan bahasa Persia, yang kemudian diarabkan.

Syaikh Abudurrahman As-Sa’di rahimahullah menyebutkan bahwa definisi judi (maysir) adalah, “Segala hal yang terkait dengan menang-kalah yang disyaratkan adanya harta pertaruhan dari kedua belah pihak”

Di dalam kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), disebutkan definisi dari permainan yang digolongkan sebagai judi dalam Pasal 303 ayat (3) KUHP,  “Yang disebut permainan judi adalah tiap-tiap permainan, di mana pada umumnya kemungkinan mendapat untung bergantung pada peruntungan belaka, juga karena pemainnya lebih terlatih atau lebih mahir. Di situ termasuk segala pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau permainan lain-lainnya yang tidak diadakan antara mereka yang turut berlomba atau bermain, demikian juga segala pertaruhan lainnya.”

Batasan Judi

Dari pengertian diatas maka ada tiga unsur agar suatu perbuatan dapat dinyatakan sebagai judi, yaitu adanya unsur :

1. Permainan atau perlombaan

Perbuatan yang dilakukan biasanya berbentuk permainan atau perlombaan. Jadi dilakukan semata-mata untuk bersenang-senang atau kesibukan untuk mengisi waktu senggang guna menghibur hati. Jadi bersifat rekreatif. Namun disini para pelaku tidak harus terlibat dalam permainan. Karena boleh jadi mereka adalah penonton atau orang yang ikut bertaruh terhadap jalannya sebuah permainan atau perlombaan.

2. Untung-untungan

Artinya untuk memenangkan permainan atau perlombaan ini lebih banyak digantungkan kepada unsur spekulatif / kebetulan atau untung-untungan. Atau faktor kemenangan yang diperoleh dikarenakan kebiasaan atau kepintaran pemain yang sudah sangat terbiasa atau terlatih.

3. Ada taruhan

Dalam permainan atau perlombaan ini ada taruhan yang dipasang oleh para pihak pemain atau bandar. Baik dalam bentuk uang ataupun harta benda lainnya. Bahkan kadang istripun bisa dijadikan taruhan. Akibat adanya taruhan maka tentu saja ada pihak yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Unsur ini merupakan unsur yang paling utama untuk menentukan apakah sebuah perbuatan dapat disebut sebagai judi atau bukan.

Banyak praktek perbuatan mengandung perjudian yang telah berkembang di masyarakat, namun dari uraian di atas cukuplah menjadi jelas bahwa segala perbuatan yang memenuhi ketiga unsur diatas, adalah masuk kategori judi meskipun dibungkus dengan nama-nama yang indah sehingga nampak seperti permainan atau sumbangan suka rela. Bahkan sepakbola, bulutangkis, voley dan catur bisa masuk kategori judi, bila dalam prakteknya memenuhi ketiga unsur diatas.

Jauhilah Perbuatan itu agar kamu beruntung

Allah Subhanhu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syetan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al-Maidah: 90)

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al Maidah: 91)

Disadari atau tidak banyak keburukan yang tumbuh dari segala perbuatan yang mengandung judi mulai dari ketagihan, panjang angan-angan, malas bekerja, sampai permusuhan yang muncul diantara sesama muslim. Para ulama sepakat akan haramnya judi. Ulama Syafi’iyah mengatakan bahwa jika dipersyaratkan ada taruhan dari dua belah pihak, yaitu yang menang itulah yang berhak dapat hadiah, maka seperti ini adalah judi.. Bahkan seperti ini termasuk dosa besar. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 39: 407)

Jika yang dicari dalam permainan yang mengandung judi adalah harta, maka sungguh apa yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan pernah menambah kebaikan daripada harta. Jika yang dicari hanyalah kesenangan dan permainannya saja, maka betapa masih banyak permainan yang mengandung kebaikan dan bermanfaat. “Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik bagimu” (HR Ahmad no 23074)

@Kota Mangga – Juni 2014

Maraji:

http://www.rumahfiqih.com/m/x.php?id=1358083668

http://rumaysho.com/muamalah/judi-pada-togel-3681

Syair Untuk Buah Hati Pertama

Jadilah engkau orang yang Afif

Orang yang menjaga iffah atau kehormatan dirinya

Orang yang bersabar dari perkara-perkara yang haram walaupun jiwa cenderung menginginkannya

 

Jadilah engkau orang yang Afif

Orang yang tidak menuruti semua keinginan hawa nafsunya

Yang darinya akan belajar sifat-sifat mulia

Sifat sabar, qonaah, jujur, santun, dan sifat mulia lainnya

 

Jadilah engkau orang yang Afif

Yang hanya menjadikan Islam sebagai kemuliaanmu

Bukan dengan harta. Bukan dengan nasab. Bukan pula dengan kedudukan

Sungguh tidak akan ditemukan kemuliaan melainkan dengan islam

 

Agama ini telah menuntunmu menjadi orang yang Afif

Bekali diri dengan takwa

Karena dengan takwa engkau akan berhati-hati dalam setiap langkah

Bentengi diri dangan rasa malu

Karena dengan rasa malu engkau akan terhindar dari perbuatan keji dan dosa

Sungguh sifat malu yang menghiasi diri akan membuatnya menjadi bertambah indah

Palingkan pandangan, pendengaran, dan lisan dari yang haram

Karena ia akan menjadi benteng dari menyusupnya noktah hitam ke dalam hati

Menjauhlah dari majelis yang mendatangkan fitnah dan dosa

Karena ia hanya akan menjatuhkan muruah

 

Di akhir zaman ini, betapa sangat dibutuhkan orang yang Afif

Ketika fitnah syubhat dan syahwat merajalela

Ketika kehormatan dan rasa malu telah langka

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ اْلهُدَى وَالتُّقَى، وَاْلعَفَافَ وَاْلغِنَى

“Ya Allah aku memohon kepadamu petunjuk, ketaqwaan, iffah dan kekayaan”

 

-Kota Mangga 23/04/14-

#Kutulis untuk buah hatiku pertama, Afif Abdurrahman. Semoga Allah ta’ala menjadikanmu termasuk orang yang Afif.

Maaf Tidak Ada Selamat Ultah

Banyak yang menganggap diantara bentuk perhatian yang kita ungkapkan ke orang lain adalah dengan memberi ucapan selamat di hari ulang tahunnya. Namun, sebagai seorang muslim hendaknya kita tidak mudah untuk mengikuti sesuatu kecuali telah kita kaji dasar hukum pandangan syariat terkait perbuatan atau amalan tersebut. Demikian juga berkaitan dengan masalah perayaan ulang tahun.

Sekilas Sejarah dan Perayaan Ulang Tahun

Dalam budaya pagan diyakini roh-roh jahat mengunjungi orang–orang pada hari ulang tahun mereka. Untuk melindungi orang yang memiliki ulang tahun dari pengaruh jahat, orang-orang diundang untuk mengelilingi dia dan berpesta. Membuat banyak suara untuk menakut-nakuti roh-roh jahat. Pada waktu itu tidak ada tradisi membawa hadiah. Tamu yang menghadiri pesta ulang tahun akan membawa keinginan yang baik bagi orang ulang tahun.

Sementara itu, Bangsa Romawi merayakan ulang tahun secara penuh antusias dengan pesta yang hedonistik dan hadiah yang berlimpah. Pada saat agama nasrani lahir, ulang tahun dijadikan kebudayaan orang nasrani. Perayaan Ulang tahun yang paling terkenal dalam sejarah adalah Yesus Kristus. Selama hampir 2000 tahun sejak kelahiran Yesus di Betlehem, orang Kristen telah menghormatinya sebagai Natal.

Beberapa tradisi dan simbol-simbol ulang tahun yang populer yang kita lihat sekarang ini berasal ratusan tahun yang lalu. Tradisi lilin pada kue ulang tahun dihubungkan dengan Yunani awal, yang menggunakan tempat lilin menyala pada kue untuk membuat mereka bersinar seperti bulan.Dahulu, Yunani membawa kue ke kuil Artemis-Dewi Bulan. Beberapa ahli mengatakan bahwa lilin ditempatkan pada kue karena kepercayaan bahwa asap dari lilin akan membawa keinginan serta doa mereka kepada dewa-dewa yang tinggal di langit.

Demikian sekilas sejarah perayaan ulang tahun yang memang telah ada pada masa silam. Banyak bangsa dan kepercayaan yang lain (selain yang telah disebutkan diatas) yang juga mempunyai tradisi perayaan ulang tahun dengan masing-masing kepercayaannya. Pada zaman ini, memperingati ulang tahun seseorang biasanya dirayakan dengan mengadakan pesta ulang tahun bersama keluarga atau teman. Hadiah sering diberikan kepada orang yang merayakan ulang tahun. Pada saat seseorang ulang tahun, sudah menjadi kebiasaan untuk memperlakukan orang tersebut secara istimewa. Seringkali orang menempatkan lilin pada kue ulang tahun dan berdo’a (silent wish) sebelum meniup lilin. Beberapa diantara yang lain juga menuliskan nama di kue ulang tahun sebelum memotongnya.

Perayaan Ulang Tahun dalam Islam

Di masyarakat sekarang, banyak kaum muslimin yang juga turut ikut merayakan hari ulang tahun, apakah yang berkaitan dengan hari ulang tahun individu atau instansi. Dalam tinjauan syariat, ada beberapa kemungkinan terkait dengan perayaan ulang tahun ini.

Kemungkinan pertama, perayaan tersebut dimaksudkan dalam rangka ibadah. Misalnya dimaksudkan sebagai ritualisasi rasa syukur, atau misalnya dengan acara tertentu yang di dalam ada doa-doa atau bacaan dzikir-dzikir tertentu. Atau juga dengan ritual seperti mandi kembang 7 rupa ataupun mandi dengan air biasa namun dengan keyakinan hal tersebut sebagai pembersih dosa-dosa yang telah lalu. Jika demikian maka perayaan ini masuk dalam pembicaraan masalah bid’ah. Karena syukur, doa, dzikir, istighfar (pembersihan dosa), adalah bentuk-bentuk ibadah dan ibadah tidak boleh dibuat-buat sendiri bentuk ritualnya karena merupakan hak paten Allah dan Rasul-Nya. Sehingga kemungkinan pertama ini merupakan bentuk yang dilarang dalam agama, karena Rasul kita Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melakukan ritual amal ibadah yang bukan berasal dari kami, maka amalnya tersebut tertolak” (HR. Bukhari dan Muslim)

Disamping itu orang yang membuat-buat ritual ibadah baru, bukan hanya tertolak amalannya, namun ia juga mendapat dosa, karena perbuatan tersebut dicela oleh Allah. Sebagaimana hadits, “Akan datang ke (telaga)ku orang-orang yang kukenal dan mereka mengenaliku, namun kemudian mereka terhalang dariku”. Akupun berkata, “Mereka adalah bagian dariku!”. Dijawab, “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan setelah engkau (meninggal dunia)”(HR. Bukhari dan Muslim)

Kemungkinan kedua, perayaan ulang tahun ini dimaksudkan tidak dalam rangka ibadah, melainkan hanya tradisi, kebiasaan, adat atau mungkin sekedar have fun. Bila demikian, hal ini mengandung dua sisi larangan.

Yang pertama, menjadikan sebagai salah satu hari raya. Tindakan ini berarti suatu kelancangan terhadap Allah dan Rasulnya, dimana kita menetapkan sebagai ‘Ied (Hari Raya) dalam islam, padahal Allah dan Rasulnya tidak pernah menjadikannya sebagai hari raya. Perayaan dalam islam terbagi menjadi tiga perayaan saja, yang pertama Iedul Fitri yang kedua Iedul Adha dan yang terakhir setiap hari jum’at. Hal ini telah dijelaskan dalam beberapa hadits yang shahih.

Yang kedua, mengandung usur tasyabbuh (meniru niru). Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ulang tahun ini selalu dirayakan oleh umat nasrani dan lainnya. Seorang muslim yang yakin bahwa hanya Allah lah sesembahan yang berhak disembah, sepatutnya ia membenci (dalam hati) setiap penyembahan kepada selain Allah dan penganutnya. Salah satu yang wajib dibenci adalah kebiasaan dan tradisi mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim).

Bagaimana Seharusnya Sikap Seorang Muslim

Sikap kita dalam menghadapi hari ulang tahun adalah tidak mengadakan perayaan khusus, biasa-biasa saja dan berwibawa dalam menghindari perayaan semacam itu. Mensyukuri nikmat Allah berupa kesehatan, kehidupan, usia yang panjang, sepatutnya dilakukan setiap saat bukan setiap tahun. Dan tidak perlu dilakukan dengan ritual atau acara khusus, Allah Maha Mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi di dalam dada. Demikian juga refleksi diri, mengoreksi apa yang kurang dan apa yang perlu ditingkatkan dari diri kita selayaknya menjadi renungan harian setiap muslim, bukan renungan tahunan.

Indahnya persaudaraan tidak diukur dengan siapa yang paling cepat mengucapkan selamat ulang tahun. Akan tetapi siapa yang paling tulus dan ikhlas mendoakan satu sama lain. Dan sebaik-baik doa seseorang kepada saudaranya seiman adalah doa tanpa sepengetahuan mereka. Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Doa seorang muslim kepada saudaranya secara rahasia dan tidak hadir di hadapannya adalah sangat dikabulkan. Di sisinya ada seorang malaikat yang ditunjuk oleh Alloh. Setiap kali ia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut berkata (kepadanya): “Ya Alloh, kabulkanlah, dan (semoga) bagimu juga (mendapatkan balasan) yang semisalnya.” (HR. Muslim)

Wallahu a’lam.

@Kota Mangga yang sedang berbuah, 09 Des 2013

Rujukan:

http://id.wikipedia.org/wiki/Ulang_tahun

http://bahterailmu.wordpress.com/2011/05/31/sejarah-dan-asal-usul-kue-ulang-tahun/

http://blogomasupartana.blogspot.com/2012/12/awal-sejarah-di-adakannya-pesta-ulang.html

http://muslim.or.id/manhaj/sikap-yang-islami-menghadapi-hari-ulang-tahun.html