Pengertian Judi

Dalam bahasa Arab, judi sering disebut dengan istilah maysir (المَيْسِر). Al-Quran tiga kali menyebutkan kata maysir dengan makna judi. Namun di dalam hadits nabawi, istilah judi lebih sering disebut dengan nama permainannya seperti nard (النَّرْد) dan syathranj (الشَّطْرَنج). Keduanya adalah permainan yang populer di Persia, sehingga namanya pun menggunakan bahasa Persia, yang kemudian diarabkan.

Syaikh Abudurrahman As-Sa’di rahimahullah menyebutkan bahwa definisi judi (maysir) adalah, “Segala hal yang terkait dengan menang-kalah yang disyaratkan adanya harta pertaruhan dari kedua belah pihak”

Di dalam kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), disebutkan definisi dari permainan yang digolongkan sebagai judi dalam Pasal 303 ayat (3) KUHP,  “Yang disebut permainan judi adalah tiap-tiap permainan, di mana pada umumnya kemungkinan mendapat untung bergantung pada peruntungan belaka, juga karena pemainnya lebih terlatih atau lebih mahir. Di situ termasuk segala pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau permainan lain-lainnya yang tidak diadakan antara mereka yang turut berlomba atau bermain, demikian juga segala pertaruhan lainnya.”

Batasan Judi

Dari pengertian diatas maka ada tiga unsur agar suatu perbuatan dapat dinyatakan sebagai judi, yaitu adanya unsur :

1. Permainan atau perlombaan

Perbuatan yang dilakukan biasanya berbentuk permainan atau perlombaan. Jadi dilakukan semata-mata untuk bersenang-senang atau kesibukan untuk mengisi waktu senggang guna menghibur hati. Jadi bersifat rekreatif. Namun disini para pelaku tidak harus terlibat dalam permainan. Karena boleh jadi mereka adalah penonton atau orang yang ikut bertaruh terhadap jalannya sebuah permainan atau perlombaan.

2. Untung-untungan

Artinya untuk memenangkan permainan atau perlombaan ini lebih banyak digantungkan kepada unsur spekulatif / kebetulan atau untung-untungan. Atau faktor kemenangan yang diperoleh dikarenakan kebiasaan atau kepintaran pemain yang sudah sangat terbiasa atau terlatih.

3. Ada taruhan

Dalam permainan atau perlombaan ini ada taruhan yang dipasang oleh para pihak pemain atau bandar. Baik dalam bentuk uang ataupun harta benda lainnya. Bahkan kadang istripun bisa dijadikan taruhan. Akibat adanya taruhan maka tentu saja ada pihak yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Unsur ini merupakan unsur yang paling utama untuk menentukan apakah sebuah perbuatan dapat disebut sebagai judi atau bukan.

Banyak praktek perbuatan mengandung perjudian yang telah berkembang di masyarakat, namun dari uraian di atas cukuplah menjadi jelas bahwa segala perbuatan yang memenuhi ketiga unsur diatas, adalah masuk kategori judi meskipun dibungkus dengan nama-nama yang indah sehingga nampak seperti permainan atau sumbangan suka rela. Bahkan sepakbola, bulutangkis, voley dan catur bisa masuk kategori judi, bila dalam prakteknya memenuhi ketiga unsur diatas.

Jauhilah Perbuatan itu agar kamu beruntung

Allah Subhanhu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syetan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al-Maidah: 90)

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al Maidah: 91)

Disadari atau tidak banyak keburukan yang tumbuh dari segala perbuatan yang mengandung judi mulai dari ketagihan, panjang angan-angan, malas bekerja, sampai permusuhan yang muncul diantara sesama muslim. Para ulama sepakat akan haramnya judi. Ulama Syafi’iyah mengatakan bahwa jika dipersyaratkan ada taruhan dari dua belah pihak, yaitu yang menang itulah yang berhak dapat hadiah, maka seperti ini adalah judi.. Bahkan seperti ini termasuk dosa besar. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 39: 407)

Jika yang dicari dalam permainan yang mengandung judi adalah harta, maka sungguh apa yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan pernah menambah kebaikan daripada harta. Jika yang dicari hanyalah kesenangan dan permainannya saja, maka betapa masih banyak permainan yang mengandung kebaikan dan bermanfaat. “Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik bagimu” (HR Ahmad no 23074)

@Kota Mangga – Juni 2014

Maraji:

http://www.rumahfiqih.com/m/x.php?id=1358083668

http://rumaysho.com/muamalah/judi-pada-togel-3681

Iklan