Abu Bakr bukanlah orang faqir seperti Abu Dzar, Abu Hurairah, dan sahabat lainnya. Tetapi Abu Bakr tetaplah menjadi yang terbaik dan termulia di antara mereka itu.

Abu Bakr tak pernah disiksa seperti Khubab, Bilal, Sumayyah, Yasir, dan lainnya. Tetapi Abu Bakr tetaplah menjadi yang terbaik dan termulia dibanding mereka yang disiksa itu.

Abu Bakr tak terbunuh sebagai syahid seperti Umar, Utsman, Ali, Hamzah, dan lainnya. Tetapi Abu Bakr tetaplah menjadi sosok terbaik dan termulia dibanding mereka para syuhada itu.

Rahasia apakah yang dimiliki Abu Bakr hingga sosoknya mampu mengalahkan mereka yang gemilang dalam prestasi ukhrawi masing-masing?

Kita biarkan seorang tabi’in menyingkap tabir kemuliaan Abu Bakr.

Bakr bin Abdillah al-Muzaniy berkata:

“Abu Bakr menggapai itu semua dan melebihi mereka bukan karena tingginya kuantitas shalat, puasa dan lainnya namun karena sesuatu yang menetap di hatinya yaitu amalan-amalan hati.”

Itulah yang dicapai Abu Bakr yang tak bisa digapai oleh amal-amal lain. Itulah yang menjadikan imannya lebih tinggi dibanding iman penduduk bumi jika memang mesti ditimbang.

Umar berkata:

“Kita telah memahami bahwa iman adalah amalan hati, ungkapan lisan dan peragaan anggota badan. Namun kita begitu mengusahakan rupa dan penampilan amal dan kuantitasnya. Begitu pula dgn ungkapan lisan. Namun sengaja melupakan mutiaranya yaitu ‘amal alqalb (amalan hati).

Setiap ibadah ada tampilan dan permata.

Ruku, sujud dan rukun lainnya dalam shalat ada tampilan namun khusyu adalah permatanya.

Menahan diri dari hal yang membatalkan dari terbit fajar hingga maghrib adalah tampilan puasa namun takwa adalah permatanya.

Sa’i, thawaf, wukuf, dan melempar jumrah adalah tampilan haji namun pengagungan terhadap syiar Allah adalah permatanya.

Mengangkat tangan, menghadap kiblat, lafadz munajat dan pinta adalah tampilan doa namun ketundukan dan kepasrahan adalah mutiaranya.

Bertasbih, tahlil, takbir dan lainnya adalah tampilan dzikir namun pemuliaan, kecintaan, khauf dan raja’ adalah permatanya.

Permata di balik permata adalah penekanan amalan hati lebih diutamakan dibanding amalan anggota badan.

Esok akan datang: “..Pada hari dinampakkan segala rahasia..” (QS. At-Thariq:9)

Esok pula: “..Dan dinampakkan apa yang ada di dalam dada..” (QS. Al-Aadiyaat:10)

Esok tak akan melesat ke Surga: “.. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (QS. As-Syuaro:89)

Esok tak melesat pula ke Surga kecuali: “..Orang yang takut kepada Rabb yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan” (QS. Qaaf:33-34)

(Sumber : Akun Al-Mukhtalifah)

Iklan