Peristiwa itu terjadi ribuan tahun silam. Tepatnya di sebuah lembah tandus tak berpenghuni. Saat itu, matahari begitu angkuh seakan ingin membakar seluruh isi mayapada. Angin gurun berlomba menghempaskan kerikil-kerikil padang pasir. Nun jauh di sana, nampak tiga sosok manusia berhenti. Suasana begitu senyap. Tak ada kata yang terucap. Seakan masing-masing sibuk dengan pikirannya.

Ketiga sosok itu bukan lain adalah Nabiullah Ibrahim as, istrinya tercinta Hajar serta bayi mereka, Ismail as. Di lembah yang sunyi itu mereka singgah. Ada sebuah perintah yang dititahkan Sang Khalik atas diri Ibrahim. Sungguh merupakan ujian yang maha berat. Setelah berdiam sejenak, Ibrahim as bangkit dan berbalik hendak pergi. Merasa heran, sang istri menyusul di belakang. Serak ia berseru, “Hendak kemana engkau wahai suamiku?” Tanpa menoleh Ibrahim terus berjalan. Bahkan jalannya semakin cepat. Sang istri tak mau ketinggalan. Ia terus mengikuti dan berseru memanggil suaminya. Hingga akhirnya, lantaran tidak ada jawaban pasti, ia pun bertanya: “Apakah ini perintah Allah?”  “Ya”, jawab Ibrahim singkat. Hajar pun diam dan tak bertanya lagi. Mantap ia berkata: Kalau demikian, sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan kami…”, (HR. al-Bukhari, no. 3364). Sebuah bentuk ketegaran iman dan keteguhan hati…

Padahal, jauh di dasar jiwanya, Ibrahim tidak tega meninggalkan keluarganya di padang gersang itu. Hatinya tak kuasa membayangkan apa yang bakal terjadi kemudian. Namun karena hal itu adalah perintah Allah, Ibrahim pun pasrah. Menyerahkan sepenuhnya pada ketentuan dan kasih sayang-Nya. Cintanya pada Allah jauh melampaui cintanya pada makhluk manapun. Olehnya, kendati Hajar memanggil dan memohon, Ibrahim tetap tegar melangkah. Walau dalam hatinya, beliau menangis.

Tinggallah Hajar seorang diri bersama anaknya. Tak ada bekal sedikit pun yang ditinggalkan Ibrahim. Maka ia berlari dan terus berlari melewati bukit-bukit tuk mencari. Mungkin saja ada mata air atau kafilah dagang yang kebetulan lewat. Hingga tatkala upaya dan tawakkal beliau mencapai puncak, Allah Ta’ala memancarkan air dari bawah kaki sang bayi, Ismail. Disamping itu, usaha Hajar ini pun diabadikan dalam salah satu ritual ibadah haji, yakni berlari-lari kecil antara Shafa’ dan Marwah.

Belum cukup sampai di situ ujian bagi Nabi Ibrahim. Saat mengunjungi gurun tandus tempat ia meninggalkan keluarganya di sana, ia menyaksikan bukti kebesaran Allah. Ternyata anak dan istrinya dalam keadaan sehat dan bahagia. Negeri yang sebelumnya tandus, menjelma menjadi sebuah perkampungan. Penduduknya sangat bergantung pada sumur berkah yang tak pernah kering, Zamzam. Kehidupan keduanya pun jauh berubah. Mereka bahkan ditahbis sebagai pemuka bagi kaum yang tinggal di sekitar sumur Zamzam itu. Sungguh kenyataan yang mengharukan. Terutama kala menyaksikan bayi mungil yang dulu ditinggalkannya, kini tumbuh menjadi seorang anak yang sholeh dan cerdas.

Kesholehan dan kecerdasan Ismail sanggup merebut segenap cinta dalam hati Ibrahim. Seakan kasih sayang beliau tumpah untuk anak semata wayangnya itu. Hari-harinya diisi oleh kebahagiaan dan kebanggaan menyaksikan sang anak tumbuh… Hingga tibalah ujian Allah yang kedua atas dirinya. Allah Ta’ala memerintahkan untuk menyembelih sang permata hati itu. Sebagai manusia, tentu saja beliau terhimpit perasaan gundah, sedih, dan ketakutan mendalam. Mulanya Ibrahim menyangka perintah itu sebagai bunga tidur saja. Namun tatkala perintah itu datang berulang kali, maka ia pun meyakinkan dirinya bahwa itu adalah perintah Allah Ta’ala padanya.

Esoknya, lembut ia utarakan perintah penyembelihan itu pada anak semata wayangnya. Di luar dugaan, sang anak memberikan jawaban jauh dari nalar biasa. Sebuah jawaban yang sanggup mendobrak dinding karang keraguan. Padahal, usianya saat itu belum lebih sepuluh tahun. Namun karena Tarbiyah Nubuwah yang dikecap langsung dari sang ibu, jawaban sang anak pun diabadikan oleh Allah: “Lakukanlah wahai ayahanda, insya Allah engkau akan mendapatkan aku dari golongan orang yang bersabar”.Tangis Ibrahim pecah. Dipeluknya tubuh sang anak erat-erat. Tak mampu ia berucap. Bahkan memandang wajahnya pun ia tak kuasa.

Sebelum segala sesuatunya terjadi, sang anak berpesan: “Wahai Ayahanda, lepaslah pakaian ayah, agar darahku tidak memercik mengenai pakaian ayah. Aku tidak ingin ibu bertanya darah siapa yang ada di pakaian itu. Lalu ia dirundung sedih dan terus mengenangku. Wahai ayah, jangan pandangi wajahku saat mengayunkan pedang itu. Aku khawatir ayah tidak tega, lalu muncul keraguan dalam diri ayah!”. Nabi Ibrahim diam. Ia tak sanggup mengeja sepenggal kata pun. Dan saat keduanya telah menggapai puncak kepasrahan tertinggi, Allah Ta’ala menggantikan Ismail dengan seekor domba yang gemuk.

Duhai, mengenang kisah keluarga Ibrahim ini, sebenarnya kita diingatkan akan hakikat kepasrahan dan ketundukan pada Sang Khalik. Demikian pula cinta kepadaNya di atas segalanya. Dan rasanya kita begitu kecil ketimbang mereka. Cinta kita pada Sang Khalik masih berkisar sebatas kalkulasi untung rugi secara matematika. Kita tidak tahu, bagaimana keadaan diri kita jika ditakdirkan mendapat perintah seperti itu. Bahkan yang jauh lebih rendah dari ujian Nabi Ibrahim tersebut pun kita masih ragu terhadap keyakinan dan kepasrahan kita.

Untuk mengenang itu semua, Allah Ta’ala abadikan dalam syari’at kurban di hari Idul Adha. Alhamdulillah, Allah Ta’ala tidak menyuruh menyembelih anak kita. Namun Dia hanya memerintahkan menyembelih seekor kambing, sapi atau unta, sebagai simbol keikhlasan dan ketundukan kita. Sebab daging dan darah itu tidak sampai pada-Nya. Yang sampai adalah keikhlasan yang bersemayam dalam dada. Dan ini, pada hakikatnya masih belum ada apa-apanya dibanding perintah Allah kepada Nabiullah Ibrahim alaihis salam.

Sumber: belajarislam.com

Iklan